Wednesday, February 6, 2019

Prolog

19 oktober 2018
Bandung kembali menyapa
Salah seorang teman yang memang sudah lama ku kenal dan sudah ku anggap layaknya abang sendiri, satu almamater denganku, satu organisasi lebih tepatnya mengajak bertemu di salah satu cafe favoritku di Bandung, bukan karena nikmat rasa kopinya, tapi memang karena mengenal baristanya, jadi semacam nostalgia setelah setahun meninggalkan Bandung.
O ya, sedikit kuceritakan kenapa aku bisa kembali ke kota ini setelah melalang buana kemana mana hasil tuntutan dari pekerjaan hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke tanah Sumatera dan akhirnya aku mendapat pekerjaan di salah satu BUMN dengan kategori transferebel regional, artinya aku akan stay nantinya di Pulau Sumatera. Surprise  nya sebelum pengangkatan di perusahaan ini kami harus menjalani pelatihan selama 3 bulan di Bandung. Memang tanah Sunda cukup jahil, selalu mencari segala cara membawa ku kembali.
Well, lanjut ke cerita yang tadi. Akhirnya kami sampai di cafe tersebut pukul lima sore. Saat itu cuaca Bandung sedikit mendung, sedikit syahdu dengan sepinya jalanan di sekitar dipati ukur. Tadinya aku ingin langsung menuju bar memesan Hot Cappucino (yap, saat itu cappucino menjadi satu-satunya minuman kopi yang menjadi incaranku karena pengetahuan ku soal kopi belum se-addict  sekarang). temanku sempat menahan, "jangan dulu pesenin abang ya, nunggu 1 orang lagi ".. Aku sempat penasaran  siapa satu orang lagi yang ia maksud, tapi berhubung aroma kopi sangat menggoda, aku bergegas menuju bar dan ternyata setelah ngobrol panjang lebar temanku yang dulunya barista disana sudah lama tidak bekerja lagi, alias out. Obrolan semakin berlanjut dengan barista yang baru, random sih, tentang kopi, tentang temanku dan alasannya ia tidak bekerja lagi disana, tentang owner cafe tersebut yang adalah seorang vokalis band cukup terkenal. Ya, begitulah aku, lebih senang bertengger di meja bar menunggu minumanku jadi, ketimbang harus sibuk bermain gadget di meja customer, setidaknya bisa mengulik-ulik tentang kopi dan peralatannya.
Hot cappucino dengan powder kayu manis pun jadi. Pelan-pelan ku bawa minuman itu ke meja si abang tadi yang sedang asyik menikmati susu panasnya (si abang gasuka kopi). Ngobrol ini itu, tentang perjalanan karir ku dan segala drama nya, serta keputusan ku untuk mulai berhijrah sejak Maret 2018 . Si abang juga bercerita tentang segala kegiatannya mulai dari yang produktif hingga tidak produktif, mulai dari yang berfaedah hingga yang tidak berfaedah. disitu aku juga memberi saran tentang  hidup teratur bahwa olahraga, ibadah, karir, dan social life harus bener-bener seimbang dan segala trik-triknya yang menurutku cukup berhasil saat ku praktekan..
di tengah obrolan, ada sautan dari jauh, dengan suara khas yang cukup familiar..
"haloooo...hehe"
aku menoleh, tak tau ini efek angin atau memang aku saja yang terlalu drama..seketika alam seperti membisu  (...)
Untuk sekedar informasi, mataku minus 2, jadi dari jauh tak begitu terlihat siapa yang memanggil kami, yang pasti lelaki itu tinggi besar, mengendarai motor track trial berwarna hijau, atasan flanel, jeans belel, brewokan. Ia berjalan mendekat dan semakin mendekat dan akhirnya berdiri di sampingku... "Eh , haii bang Z!makin berisi aja nih 3 tahun ga ketemu..", jawabku ceria (mohon maaf untuk kenyamananku, nama nya kusamarkan saja ya blogger )
Aku masih sedikit tertegun, jadi ini yang tadi di maksud si abang "one more person"

"maaf telat ya,, tadi beli susu dulu, stock di roasteri abis" , Mr. Z memulai obrolan

Ooooh dia pebisnis kopi sekarang, hmmm kebetulan aku butuh informan terpercaya untuk hunting kopi di Bandung selama 3 bulan ke depan...
dan obrolan berlanjut dengan gelak tawa kami bertiga membahas hal-hal apapun, mulai dari yang penting hingga sangat tak penting. Mendung pun menjadi suasana menyenangkan untuk kami bertiga sore itu..
Siapa sangka ini menjadi permulaan kisah ku dengan Dia...yang membawaku ke dunia kopi paling dalam di dasar idealisme yang paling kental, yang mengubahku dari orang yang sangat terstuktur menjadi sedikit fleksibel, yang mengubahku dari seseorang yang sangat berisik dan cerewet menjadi pemuja sajak dengan sifat introvert nya, yang menjadi alasan ku bersemangat di setiap akhir pekannya, dan menjadi alasan ku memulai menulis lagi..
Bersiap siap tenggelam dalam lirik sajak ku ke depannya yang mewakili kisah 3 bulan ku di Bandung dan akan aku edukasi para pembaca tentang fakta-fakta seputar kopi. Sekali lagi, ini karena Dia..untuk seseorang yang namanya hanya berani ku sebut lewat do'a 

No comments:

Post a Comment

hello, my name is coffee

tidak ada kata batasan untuk selera, tapi untuk kopi ini soal prinsip..  Gue sangat mencintai kopi, sangat menikmati setiap sruputannya ....